Laman

Senin, 14 November 2011

Cerita Perawat 2: Siapa yang Seharusnya Peduli?


...............

Aku mengikuti Mas L dari belakang. Kami masuk ke ruang UGD menuju sebuah bed pasien. Di situ terbaring seorang wanita berkerudung yang terlihat sangat lemas, wajahnya pucat sekali. Aku mendekatinya.

”Mbak...tolong saya” suaranya lirih, air matanya mengalir.

”iya, Mbak..”

”Saya kok diare darah, keluar terus, tak mau berhenti. Sudah basah semua celana saya ini”

Kulihat celananya, tak bisa kubayangkan apa yang dirasakannya. Kupandangi juga tubuhnya yang kurus sekali.

”sebentar ya mbak” jawabku mengulur waktu. Aku masih bingung.

Mas L mengajakku keluar.

”Seperti itulah Dek. Namanya mbak Vani (bukan nama sebenarnya). Dia dari kota M, naik bus sendiri. Merangkak katanya”

”Sendiri..?” ucapku lirih. Terbersit gambaran mbak Vani yang merangkak naik bus dan turun bus. Dengan kondisi tubuh yang seperti itu, dia melakukannya sendiri.

”Aku harus gimana mas?”

”Coba kau bersihkan saja dulu Dek”.

Aku pun pergi menemui mbak Vani lagi.

Sambil tersenyum kutanya, “Mbak namanya siapa?” walau aku sudah tahu namanya, aku tetap menanyakannya, sebagai caraku untuk menjalin hubungan saling percaya.

”Vani...”

”perkenalkan nama saya Rara, saya temannya mas L”.

Mbak Vani tersenyum pucat.

”Mbak, saya bersihkan ya diarenya. Bawa celana ganti tidak?”

“Tidak mbak, saya tidak bawa apa-apa.”

“Ya, sudah, saya belikan pampers ya. Mbak Vani mau pakai nantinya?”

”Ya...”

.....

Kuajak mbak vani ke kamar mandi untuk ganti celana. Kupakai handscone yang sudah disediakan.

“Mbak, apa ini?” jerit mbk Vani.

Kulihat tangan mbak vani memegang benjolan sebesar kepalan tangan laki-laki dewasa yang keluar dari anus. Benjolan itu berwarna merah darah segar. Dia meremasnya.

“mbak vani, jangan diremas ya…. Nanti terjadi perdarahan, ayo kalau sudah selesai kita segera kembali ke tempat tidur”

“Mbak ini apa?” sambil menangis mbak Vani tetap meremas benjolan tersebut.

“Mbak vani, tidak apa-apa. Ayo saya bantu bersih-bersih”. Hatiku miris melihatnya. Terlihat sekali mbak Vani kesakitan gara-gara benjolan tersebut. Dengan sekuat tenaga ia mengejan untuk mengeluarkan feses, tetapi yang keluar justru benjolan merah darah. Kubantu ia memakai pampers sebagai bantalan feses dan darah, serta celananya. Kupapah ia menuju bed kembali.

Mas L mencoba menghubungi no rumah yang diberikan mbak Vani. Berkali-kali kami menghubuginya, tetapi yang dituju tidak mengangkat telepon.

....

Mbak Vani pernah menikah 3 kali semasa hidupnya. Suami yang pertama menikah lagi jadi mbak Vani meminta cerai demi istri kedua suaminya. Lalu ia menikah lagi dg seorang laki-laki yang sangat mencintai mbak Vani. Tapi takdir memisahkan mereka, suami kedua mbak Vani tertabrak motor dan meninggal dunia. Mbak Vani menikah lagi dengan seorang laki-laki yg harapannya dia adalah pendamping hidupnya sampai tua nanti. Tapi ternyata suami ketiganya ini bukanlah sosok setia pada satu pasangan. Mbak Vani akhirnya meminta cerai lagi. Tapi sungguh naas nasib mbak Vani, dia sudah terlanjur mendapat transmisi virus HIV......

1 komentar:

  1. ceramic vs titanium - Titanium Arts
    Ceramic, and steel versions titanium bicycle of ceramic. · ceramic titanium linear compensator is a solo titanium razor solid resin, providing a fantastic finishing, titanium welder which is titanium i phone case particularly suitable for those who need

    BalasHapus

Mari berdiskusi untuk Kemajuan Bersama (^_^)'!!!